Mengenal Salafiyah Lebih Dekat….

8 04 2007

Pengertian ‘Salaf’

Secara bahasa, salaf berarti orang-orang yang mendahului kita, baik dari segi keilmuan, keimanan, keutamaan, maupun kebaikannya.

Ibnul Manzhur berkata, “Salaf juga berarti orang-orang yang mendahuluimu, baik orang tua maupun karib kerabatmu yang lebih tua dan utama darimu.” Termasuk dalam pengertian ini apa yang telah dikatakan oleh Rasulullah kepada putrinya

Fatimah az-Zahra’,
“Sesunguhnya sebaik-baik salaf bagimu adalah aku” HR. Muslim (no. 1450).

Adapun yang dimaksud ‘salaf’ menurut istilah para ulama pada asalnya adalah para sahabat Nabi, kemudian disertakan kepada mereka -dalam istilah tersebut- generasi sesudah mereka yang mengikuti jejak mereka. Kitab Limadza Ikhtartu Madzhab Salaf hal. 30

Sedangkan menurut tinjauan waktu, maka ‘salaf’ maksudnya adalah generasi-generasi terbaik yang patut diteladani dan diikuti, yaitu tiga generasi pertama yang telah dipersaksikan keutamaannya oleh Rasulullah dalam sabdanya:
“Sebaik-baik umat adalah generasiku, kemudian generasi sesudahnya, kemudian sesudahnya lagi.”

Namun, makna ‘salaf’ menurut tinjauan waktu ini masih belum cukup, karena kita melihat kemunculan firqah-firqah sesat dan bid‘ah-bid‘ah pada masa-masa tersebut, sehingga orang yang hidup pada masa tersebut tidak cukup dikatakan bahwa dia berada di atas manhaj Salaf sampai diketahui bahwa dia sejalan dengan para sahabat dalam memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Oleh karena itu, para ulama menambahkan dengan istilah ‘As-Salaf Ash-Shalih’ (generasi Salaf yang saleh). Pada perkembangan selanjutnya istilah salaf dinisbatkan kepada ‘orang-orang yang senantiasa menjaga aqidah dan manhaj hidupnya agar sesuai dengan tuntunan Rasulullah dan para sahabatnya sebelum terjadi perpecahan dan perselisihan’, yaitu dengan munculnya beberapa macam firqah (kelompok Islam sempalan). (Ibid hal. 30-33.)

Dakwah salafiyah sendiri kalau dalam konteks bahasa kita bisa diartikan “dakwah yang mengacu pada metodologi para ulama As-Salafus Salih (Sahabat, tabi’in, tabiut tabi’in)”. Kemudian orang yang menisbatkan diri untuk mengikuti manhaj atau dakwah salafiyah ini disebut salafy.

Jadi, kalao kita melihat bahwa dakwah salafiyah adalah dakwah Nabi Muhammad dan para Sahabat. Maka kebenaran dakwah salafiyyah bersifat absolut, namun tidak sekadar mengaku-ngaku sebagai pengemban, penyeru dan penerap dakwah ini. Klaim seseorang bahwa dia itu salafy itu bisa benar, bisa agak benar bisa juga tidak benar sama sekali. Semuanya tergantung sejauh mana keselarasan mereka dengan para ulama As-Salafus Salih terdahulu dalam masalah aqidah, ibadah, akhlak, dan perilaku mereka.”

Namun kita harus tetap menghargai seseorang yang menisbatkan diri sebagai salafy. Karena penisbatan kepada manhaj salaf adalah sesuatu yang diutamakan dan terpuji. Karena siapa lagi yang akan kita ikuti dalam islamnya setelah Rasulullah selain para generasi terbaik pendahulu umat ini yaitu Sahabat, tabi’in dan tabiut tabiin.

Lalu ada sebagian orang yang mengaku berilmu enggan untuk menisbatkan diri pada salafy/istilah As-salaf dengan sangkaan tidak ada dasarnya itu. Mereka mengucapkan, “Seorang muslim tidak boleh menyatakan, ’saya adalah salafy’.”. Pernyataan ini sama saja secara tidak langsung mereka beranggapan bahwa seorang muslim tidak boleh mengikuti metode As-Salafus Salih (para sahabat dan pengikut mereka) baik dalam aqidah, ibadah, atau akhlak.

Tidak diragukan lagi bahwa keengganan mereka ini membawa konsekuensi untuk melepaskan diri dari islam yang benar seperti yang dianut oleh As-Salafush Shalih pimpinan Rasulullah, sebagaimana Rasululllah bersabda :

Sebaik-baik generasi manusia adalah generasiku ini, kemudian sesudahnya, kemudian sesudahnya”

—- Kapan munculnya istilah “salafy” sendiri?——
Kalo ada yang berkata istilah salafy itu gak dicontohkan oleh sahabat. Di zaman sahabat dan tabiin tidak ada tuh namanya salafy atau mengaku salafy. Ya iyalah… Di zaman mereka islam itu masih terlihat murni dan satu. Meskipun ada beberapa bibit penyimpangan baik dari khawarij maupun Syiah, sahabat dan tabiin pada saat itu masih banyak dan teguh konsisten menerapkan islam yang murni sesuai tuntunan Rasulullah.

Salafy sendiri muncul di akhir-akhir zaman ini karena beberapa ulama dengan ijtihad mereka perlu memandang telah bermunculan berbagai pemikiran/firqah di islam ini. Islam terpecah belah, sehingga tidak kentara mana yang masih murni sesuai dengan sunnah mana yang menyimpang. Sehingga, muncullah pertama kali istilah Ahlus Sunnah Wal Jamaah, yang menisbatkan kepada kepada Sunnah Nabi.

Namun seiring dengan perkembangannya ternyata beberapa firqah pun mengaku kalo pemirikan berlandaskan Al-Quran dan Sunnah Nabi, atau mereka pun mengaku kepada dakwah Ahlus Sunnah Wal Jamaah, seperti yang diklaim oleh kalangan Asy’ariah (kelompok yang membatasi Nama dan sifat-sifat Allah). Maka beberapa ulama Ahlu Hadits yang konsisten mengikuti Al-Quran dan Hadits Sahih dengan baik perlu mengusung suatu istilah. Istilah itu adalah salafiyah. Banyak dari para ulama memakai istilah salaf dalam beberapa kitab-kitab mereka seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Amirul Mukminin fil Hadits Asy-Syaikh Ibnu Hajar Al-Atsqolani (pengarang kitab Bulughul Maram, kitab fikih terkenal dikalang syafiiah).

Sekian saja bagian pertama dari penjelasan ana mengenai dakwah salafiyah ini yang ana beri judul, “Mengenal Salafiyah Lebih dekat”.
Wallahu a’lam.

Daftar Referensi :
1. “Mengapa Memilih Manhaj Salaf”, karya Syaikh Salim bin Ied Al-Hilali. Penerbit Pustaka Imam Bukhari.
2. “Ada Apa dengan Salafy?”, Karya Al-Ustadz Abu Umar Basyir, Penerbit Rumah Dzikir.


Actions

Information

Leave a comment