Aku masih beruntung…

21 09 2007

Jum’at siang yang panas kuberjalan menyelusuri jalan padat dan macet menuju kampus Anggres Binusku yang tercinta. Siang itu kuberjalan terburu-buru untuk mengejar sholat jumat berjamaah di mushola kampusku itu. Selama berjalan menyelusuri trotoar di area luar kampusku itu, aku meninjau skilas perkembangan gedung yang sedang dibangun dikampusku. Saat melihat, ada sebuah penampakan kejadian yang benar-benar cukup membuat hati ini terdiam beberapa saat.

 Apaan itu? Gedung kampus anggrek runtuh?? Oh enggak separah itu kali…

Yah, yang kulihat saat itu para pekerja proyek gedung di kampusku itu sedang beristirahat. Yang membuatku merasa terheran, mereka yang duduk santai ngobrol-ngobrol dan sambil makan dan minum kopi di tengah semilir angin sepoi-sepoi di bawah pohon. Heran aku…padahal daku saja merasa sudah ksiangan untuk datang ke mushola anggrek tuk sholat jumat–pada saat itu aku keluar rumah jam 11.40–. Tapi mereka bukannya bersegara untuk sholat jumat malah duduk asik santai saja. Seolah tak peduli bila siang ini adalah hari jumat yang dimuliakan dimana saat-saat diijabahnya do’a seorang hamba kepada Allah. Dan terdapat suatu ancaman yang teramat keras bila meninggalkan sholat jumat secara sengaja. Iya sih kemungkinan aja mereka bukan muslim. Tapi masa sih, dari catatan statiskin orang islam di indonesia kan masih dominasi. Terlebih lagi warga kelas menengah bawah.

Sudah itu…mereka dengan wajah tak berdosa dan tanpa malu dengan asyiknya menyantap makan dan kopi. Tak tahukah mereka bulan ini adalah bulan diwajibkannya puasa? Tak tahukah mereka ancamannya bagi orang yang tidak berpuasa?

 Ya Allah…ampunilah segala dosaku ini

Alhamdulillah dibanyak kekuranganku, ku baru tersadar diri ini masih jauh lebih beruntung dibandingkan mereka. Aku maklumi keadaan mereka. Mereka orang yang dhuafa yang diuji oleh Allah. Namun mereka tak kuat memikul cobaan Allah itu, akhir iman mereka pun menjadi miskin.

Hati ini terharu dan sedikit iba dengan mereka walau sedikit ada rasa kesal pada mereka yang tak tahu sopan santun dengan syariat Allah. Aku mungkin juga akan sama dengan mereka bila kemiskinan menimpa padaku. Yah, itu mungkin saja. Indikasi dengan beberapa contoh masalah kuliah atau problem interpersonal yang terkadang membuat diri ini lupa akan Allah, mulai untuk lalai dan larut dalam permainan dunia.

Aku masi beruntung dilahirkan dan dibesarkan di keluarga yang berkecukupan secara ekonomi. Dibesarkan di suatu lingkungan yang kental dan strange dengan nilai-nilai agama.

Alhamdulillah hanya inilah yang saat ini bisa kuucapkan pada-Mu ya Allah. Terima kasih untuk semuanya.

Papa mama makasih udah nunjukin Mas jalan kebaikan ini. Suatu harta mewah yang mungkin tak semua bisa Mas dapatkan dari kalian, saat ini rasanya tiada artinya lagi bila dibandingkan perjuanganmu membesar aku dan saudaraku dalam lingkungan islami.

Bener-bener nih aku atau mungkin kalian wahai kawan masih beruntung dibanding mereka. Manfaatkanlah kesempatan ini untuk menggunakan seluruh potensi, harta kita di jalan Allah. Memenuhi segala panggilan syariat-NYa dan menjauhi segala apa yang dilarang.


Actions

Information

Leave a comment